Mendidik Anak untuk Berbohong

Diposting oleh Unknown on Senin, 10 Februari 2014

Mendidik Anak untuk Berbohong
Di antara didikan yang salah pada anak adalah mengajari mereka berbohong. Kapan orang tua mengajari seperti itu? Yaitu ketika anak “ngambek” ingin dibelikan sesuatu, lalu orang tua berkata, “Iya, mama akan belikan mainan tersebut besok Jum’at.” Ternyata itu hanya ingin membohongi anak saja supaya diam, tidak lagi nangis. Padahal ini sebenarnya didikan dari orang tua yang keliru dan anak bisa mewarisi sifat jelek seperti itu.

Berbohong dalam kondisi ini tetap terkena ancaman hadits,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59).

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri.

Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, “Beritahu saja bapak tidak ada di rumah.” Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyyatil Abna’, hal. 243).
Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar